Pulung Gantung, Mitos Bunuh Diri dan Kematian di Masyarakat Jogjakarta

×

Pulung Gantung, Mitos Bunuh Diri dan Kematian di Masyarakat Jogjakarta

Bagikan berita
Pulung Gantung, Mitos Bunuh Diri dan Kematian di Masyarakat Jogjakarta. (Foto : Dok. Istimewa)
Pulung Gantung, Mitos Bunuh Diri dan Kematian di Masyarakat Jogjakarta. (Foto : Dok. Istimewa)

Kadang api tersebut meredup dan menyala dengan ganas, membuat sulit untuk memastikan apakah Pulung Gantung adalah benda atau makhluk.

Namun, satu hal yang pasti, penampakan Pulung Gantung dianggap sebagai tanda bahwa akan ada warga yang akan melakukan bunuh diri.

Asal Usul Pulung Gantung

Dikutip dalam penelitian Faika Rachmawati dan Tri Suratmi, yang sempat melakukan wawancara pada salah seorang sesepuh yang tinggal di dekat kompleks pemakaman raja-raja Mataram, legenda ini berawal dari masa perseteruan antara Majapahit dan Demak.

Para pengikut Raja Brawijaya V yang melarikan diri ke Gunungkidul melakukan semedi. Raja Brawijaya V berhasil menghilang dengan raganya, tetapi pengikutnya yang gagal berubah menjadi jenglot atau makhluk kerdil yang suka meminum darah manusia.

Mereka yang tidak memiliki kemampuan menyerah dan bunuh diri secara massal dengan cara menggantung diri.

Energi negatif dari peristiwa ini diyakini masih ada di Gunungkidul, dan arwah yang ditolak oleh alam selanjutnya berubah menjadi Pulung Gantung, yang mengajak jiwa-jiwa lain untuk bunuh diri seperti mereka.

Kepercayaan Masyarakat

Masyarakat Gunungkidul percaya bahwa jika Pulung Gantung melewati suatu daerah, akan ada orang yang mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Meskipun mitos ini sulit dijelaskan secara ilmiah, masyarakat tetap mempercayainya.

Penelitian Kurniati menunjukkan bahwa masyarakat Gunungkidul memiliki persepsi bahwa siapa saja yang 'ketiban' Pulung Gantung akan terdorong untuk bunuh diri. Pulung Gantung bisa jatuh di atas rumah pelaku bunuh diri, di rumah tetangganya, atau di pohon sekitar rumah.

Kapan Pulung Gantung Muncul

Tidak ada yang tahu pasti kapan kisah Pulung Gantung mulai muncul. Namun, bunuh diri di Gunungkidul selalu dikaitkan dengan mitos ini karena angka bunuh diri yang tinggi dan modus yang hampir selalu dengan cara gantung diri.

Penyebab dan Pencegahan

Depresi adalah penyebab umum bunuh diri. Pada tahun 1992, Bupati Gunungkidul mengeluarkan surat perintah untuk melakukan upacara tradisional ruwatan guna mencegah bunuh diri. Namun, upaya tersebut belum berhasil menekan angka bunuh diri yang tinggi.

Editor : Devi Irmayani Saiser
Sumber : jurnal ilmiah kesehatan
Bagikan

Berita Terkait
Terkini